Dimiscart Gallery – Laporan eksklusif dari Game File mengungkap bahwa Ubisoft membatalkan proyek ambisius Assassin’s Creed pada tahun 2024. Proyek ini mengambil latar waktu era Perang Saudara Amerika dan masa Reconstruction, periode yang sangat sensitif dalam sejarah Amerika Serikat.
“Baca Juga: Ferrari Siap Luncurkan Kendaraan Listrik Pertama Tahun Depan”
Game ini rencananya menampilkan karakter utama pria kulit hitam yang dulunya seorang budak. Setelah bebas, karakter tersebut pindah ke wilayah Barat, bergabung dengan Brotherhood Assassins, dan kembali ke Selatan untuk menegakkan keadilan.
Menurut sumber anonim dari mantan dan karyawan Ubisoft yang diwawancarai oleh Game File, pembatalan terjadi setelah keputusan manajemen pusat di Paris pada pertengahan 2024. Dua alasan utama menjadi latar belakang pembatalan ini.
Pertama, backlash negatif dan reaksi rasis yang muncul setelah pengumuman Yasuke, seorang samurai kulit hitam di Assassin’s Creed Shadows, membuat manajemen khawatir. Mereka memperkirakan jika game yang mengangkat isu KKK dirilis, reaksi negatif akan jauh lebih parah. Kedua, kondisi politik Amerika Serikat saat itu dianggap terlalu tidak stabil. Isu rasial dan sejarah yang sensitif diperkirakan dapat memperburuk situasi dan menjadi bahan perdebatan publik yang merugikan reputasi perusahaan.
Dampak Pembatalan dan Respon Tim Developer Ubisoft
Keputusan membatalkan proyek ini membuat banyak developer kecewa. Mereka sudah bekerja keras dan bersemangat, tetapi manajemen lebih memilih untuk menghindari risiko politik dan kontroversi, sehingga semangat inovasi pun menjadi terhambat. Banyak dari mereka berharap perusahaan bisa memberikan ruang lebih bagi kreativitas dan keberanian dalam mengangkat tema-tema penting yang memiliki dampak sosial nyata.
Seorang developer yang diwawancarai menyatakan kekecewaannya: “Saya benar-benar kecewa berat tapi tidak kaget dengan keputusan manajemen Ubisoft. Mereka lebih memilih mempertahankan status quo politik daripada mengambil risiko kreatif.” Developer lain menambahkan bahwa pembatalan ini memengaruhi motivasi dan ambisi kreatif tim secara signifikan. Banyak dari mereka merasa ide besar dan inovatif kini terhambat oleh keputusan yang sangat konservatif.
“Baca Juga: Brave Raih 100 Juta Pengguna Aktif Bulanan di 2025″
Keputusan ini juga menimbulkan pertanyaan lebih luas tentang bagaimana perusahaan game besar menghadapi isu-isu sosial dan politik yang sensitif. Ubisoft tampaknya memilih langkah aman demi menjaga citra dan menghindari konflik publik, meskipun itu berarti mengorbankan keberanian narasi dan inovasi dalam game mereka. Hal ini memicu perdebatan mengenai batas antara komersialisme dan kebebasan berekspresi dalam industri hiburan interaktif. Ke depan, publik dan penggemar berharap Ubisoft dapat menemukan keseimbangan antara kebebasan kreatif dan tanggung jawab sosial dalam proyek-proyek mendatang. Kejadian ini juga membuka diskusi tentang pentingnya dukungan terhadap tim kreatif dalam menyajikan cerita yang berani dan relevan secara historis, sekaligus mampu menginspirasi perubahan positif dalam masyarakat.




Leave a Reply