Dimiscart Gallery – Manufaktur memori global Micron membawa kabar yang kurang menggembirakan bagi konsumen yang berharap harga RAM segera kembali stabil. Dalam waktu dekat, kondisi pasar memori justru diprediksi masih akan berada dalam fase kelangkaan, sehingga harga produk berbasis RAM berpotensi tetap tinggi. Situasi ini bukan hanya berdampak pada pasar PC dan laptop. Tetapi juga menjalar ke berbagai perangkat elektronik lain yang sangat bergantung pada ketersediaan memori.
“Baca Juga: Siri Chatbot Apple Direncanakan Meluncur pada 2027″
Wawancara Micron di CES 2026 Ungkap Situasi Pasokan
Dalam wawancara terbaru yang dilakukan oleh Wccftech pada ajang CES 2026. Christopher Moore selaku Vice President Marketing Micron menjelaskan bahwa krisis pasokan RAM kemungkinan besar tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Ia menegaskan bahwa pasar masih akan menghadapi harga memori yang mahal untuk beberapa waktu ke depan. Seiring dengan belum pulihnya keseimbangan antara permintaan dan kapasitas produksi global.
Menurut Moore, tekanan utama datang dari sektor kecerdasan buatan atau AI. Yang saat ini menyedot hampir seluruh sumber daya produksi memori berkapasitas tinggi. Kebutuhan data center, server AI, dan komputasi performa tinggi membuat jalur produksi RAM modern lebih banyak diarahkan ke segmen enterprise, ketimbang pasar konsumen seperti PC, laptop, atau konsol game.
Perlombaan AI Jadi Penyebab Utama Kelangkaan RAM
Fenomena kelangkaan RAM ini erat kaitannya dengan perlombaan teknologi AI yang semakin agresif di seluruh dunia. Perusahaan-perusahaan besar berlomba membangun infrastruktur AI berskala masif, yang membutuhkan jumlah memori sangat besar dan spesifikasi tinggi. Akibatnya, porsi produksi RAM untuk kebutuhan konsumen menjadi semakin terbatas.
Dampaknya sudah mulai terasa. Beberapa produsen perangkat, termasuk perusahaan modular PC seperti Framework, terpaksa menaikkan harga produk mereka karena biaya komponen yang melonjak. Tidak hanya itu, sektor konsol juga ikut terdampak, di mana konsol generasi terbaru seperti PlayStation disebut berpotensi mengalami penundaan peluncuran akibat keterbatasan pasokan memori dan komponen pendukung lainnya.
Pabrik Baru Micron Belum Bisa Jadi Solusi Cepat
Micron sendiri sebenarnya telah mengambil langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas produksi. Perusahaan ini sudah memulai pembangunan fasilitas manufaktur baru ID1 di Idaho sejak sekitar tiga tahun lalu. Namun, menurut penjelasan Christopher Moore, pabrik tersebut diperkirakan baru akan mulai beroperasi pada pertengahan 2027.
Lebih jauh lagi, Moore menegaskan bahwa meskipun pabrik tersebut sudah aktif, dampak peningkatan produksinya tidak akan langsung terasa secara global. Output RAM terbaru dari fasilitas tersebut baru diperkirakan bisa dirasakan oleh konsumen secara luas pada tahun 2028. Artinya, tambahan kapasitas ini belum bisa menjadi solusi jangka pendek untuk mengatasi kelangkaan memori yang sedang terjadi.
“Baca Juga: realme Neo8 Resmi Dirilis dengan Snapdragon 8 Gen 5″
Konsumen Harus Bersiap Hadapi Harga Tinggi Hingga 2028
Dengan kondisi tersebut, Micron secara tidak langsung memprediksi bahwa paceklik memori ini bisa bertahan hingga dua tahun ke depan. Selama permintaan AI masih sangat tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda melambat, jalur produksi RAM untuk pasar konsumen kemungkinan akan tetap menjadi prioritas kedua dibandingkan kebutuhan data center dan komputasi AI.
Bagi konsumen, situasi ini berarti harga RAM, SSD, dan perangkat elektronik lain yang bergantung pada memori berpotensi tetap mahal dalam jangka menengah. Upgrade PC atau pembelian perangkat baru mungkin perlu dipertimbangkan dengan lebih matang, karena peluang penurunan harga dalam waktu dekat dinilai masih sangat kecil.




Leave a Reply