Dimiscart Gallery – Setelah sukses besar di platform iOS, OpenAI akhirnya merilis aplikasi Sora untuk pengguna Android. Aplikasi ini memungkinkan penggunanya untuk membuat dan menonton video berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam format yang mirip dengan TikTok. Meskipun sudah tersedia untuk Android. Aplikasi Sora saat ini hanya bisa diakses di wilayah tertentu seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang. Fitur-fitur yang ada di versi iOS, termasuk pembaruan terbaru, kini juga dapat dinikmati pengguna Android.
“Baca Juga: vivo Y500 Pro Meluncur dengan Kamera 200 MP, Siap Bersaing di Kelas Mid-Range”
Fitur Cameo: Membuat Video AI Berdasarkan Prompt Pengguna
Salah satu fitur baru yang hadir di aplikasi Sora adalah “Cameo”. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk membuat video AI yang menampilkan diri mereka melakukan berbagai aktivitas sesuai dengan permintaan atau prompt. Dengan Cameo, pengguna dapat berinteraksi dengan AI untuk menghasilkan video yang lebih personal dan kreatif. Misalnya, membayangkan diri mereka dalam situasi atau cerita tertentu. Fitur ini menambah kedalaman pengalaman pengguna dalam menggunakan aplikasi Sora.
Keberhasilan Luar Biasa di Platform iOS
Ketika pertama kali diluncurkan di platform iOS pada akhir September lalu, aplikasi Sora mendapat sambutan luar biasa. Dalam waktu kurang dari lima hari, aplikasi ini berhasil mencatatkan lebih dari satu juta unduhan, bahkan melebihi rekor yang sebelumnya dipegang oleh ChatGPT di platform yang sama. Keberhasilan ini menunjukkan tingginya minat terhadap teknologi video berbasis AI dan potensi besar aplikasi ini di pasar global.
Kontroversi Penggunaan Video AI Tokoh Sejarah dan Selebriti Meninggal
Namun, kesuksesan Sora tidak lepas dari kontroversi. Beberapa pengguna telah memanfaatkan aplikasi ini untuk menciptakan video yang menampilkan tokoh sejarah atau selebritas yang sudah meninggal, termasuk Martin Luther King. Meskipun OpenAI melarang pembuatan video yang menampilkan tokoh publik yang masih hidup, kebijakan ini tidak berlaku untuk tokoh sejarah atau selebritas yang sudah meninggal dunia. Hal ini memicu reaksi negatif dari banyak pihak yang khawatir video AI semacam ini bisa disalahartikan sebagai fakta sejarah atau digunakan untuk menyebarkan informasi palsu.
Tuntutan Hukum Terkait Penggunaan Karakter Fiktif
Kontroversi lain yang muncul adalah terkait penggunaan karakter-karakter fiktif terkenal seperti SpongeBob dan Pikachu dalam video yang dihasilkan oleh Sora. OpenAI kini menghadapi tuntutan hukum mengenai hak cipta, karena karakter-karakter ini dilibatkan dalam pembuatan video meskipun mereka dilindungi oleh hak cipta. Tuntutan ini menunjukkan potensi masalah hukum yang dihadapi oleh pengembang aplikasi AI yang menggunakan elemen budaya pop yang dilindungi hak cipta dalam konten yang mereka buat.
“Baca Juga: AMD Kejutkan Pengguna dengan Keputusan Lanjutkan Dukungan GPU RDNA 1 & 2″
Tantangan dan Masa Depan Aplikasi Sora
Dengan segala kontroversi yang mengiringi peluncurannya, masa depan aplikasi Sora akan sangat bergantung pada bagaimana OpenAI menanggapi masalah-masalah ini. Kebijakan terkait penggunaan video AI dari tokoh sejarah dan selebritas yang sudah meninggal, serta masalah hak cipta, perlu segera diperjelas. Selain itu, OpenAI juga harus mempertimbangkan cara untuk mengedukasi pengguna agar tidak menyalahgunakan aplikasi ini. Di sisi lain, fitur-fitur inovatif yang ada di Sora, seperti Cameo, membuka peluang bagi pengembangan lebih lanjut dan penerimaan yang lebih luas dari pengguna di seluruh dunia.
Aplikasi Sora mengundang perhatian besar berkat kecanggihan teknologinya, namun tantangan etika dan hukum yang dihadapi ke depan akan sangat menentukan apakah aplikasi ini bisa berkembang dengan cara yang bertanggung jawab.




Leave a Reply