Dimiscart Gallery – AMD menegaskan kembali kepercayaannya pada arsitektur x86, meskipun semakin banyak produsen chip yang beralih ke ARM. Dalam wawancara dengan situs teknologi Jerman ComputerBase, AMD menyebut bahwa ARM tidak menawarkan keunggulan berarti dibandingkan x86, terutama dalam hal efisiensi daya dan performa keseluruhan.
“Baca Juga: NVIDIA RTX 5090 128GB Bocor, Hadir dengan Kapasitas Memori Besar”
Pernyataan ini muncul saat industri semikonduktor terus memperdebatkan efektivitas dua arsitektur utama tersebut. Di tengah peralihan Apple dan Qualcomm ke ARM, AMD justru memilih memperkuat kolaborasinya dengan Intel dalam pengembangan teknologi berbasis x86.
AMD: Efisiensi Daya Bukan Lagi Kelebihan Eksklusif ARM
Selama bertahun-tahun, arsitektur ARM dikenal hemat daya, membuatnya populer di perangkat mobile dan laptop ringan. Namun AMD mengklaim bahwa mitos ini sudah dipatahkan. Perusahaan menyebut bahwa lini produk Ryzen, serta prosesor Intel Core, telah membuktikan bahwa x86 juga bisa sangat efisien.
“Dulu orang beranggapan bahwa x86 tidak bisa bersaing dalam hal efisiensi,” ujar perwakilan AMD dalam wawancaranya. “Namun sejak tahun lalu, kami dan Intel berhasil menghadirkan laptop x86 dengan daya tahan baterai sangat baik.” Dengan performa tinggi dan dukungan software yang luas, AMD menilai ekosistem x86 masih unggul secara menyeluruh dibanding ARM. Karena itu, mereka merasa tidak perlu mengikuti tren hanya demi sekadar efisiensi daya.
ARM Semakin Populer di Kalangan Produsen Chip Global
ARM memang mengalami lonjakan popularitas dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan seperti Qualcomm, MediaTek, dan Samsung mengandalkan arsitektur ini untuk mengembangkan chip mobile dan AI PC. Bahkan Apple telah berpaling total dari Intel ke chip berbasis ARM sejak merilis seri Apple M1 pada 2020.
Chip seperti Snapdragon X Elite dari Qualcomm dirancang khusus untuk perangkat AI PC generasi baru. Sementara Apple terus memperluas penggunaan chip M-series ke seluruh lini Mac dan iPad mereka. Meski begitu, keberhasilan ARM di ranah mobile belum sepenuhnya teruji di segmen PC kelas berat. AMD dan Intel masih mendominasi pasar desktop dan workstation dengan ekosistem x86 yang mapan.
Kompatibilitas dan Ekosistem Jadi Alasan AMD Bertahan di x86
Salah satu alasan utama AMD enggan berpindah ke ARM adalah ekosistem perangkat lunak dan kompatibilitas sistem operasi. Arsitektur x86 telah menjadi tulang punggung sistem komputer modern selama puluhan tahun.
Dukungan luas dari pengembang perangkat lunak dan kestabilan sistem menjadi nilai jual utama AMD dalam mempertahankan arsitektur ini. Perusahaan percaya bahwa perpindahan ke ARM akan membutuhkan waktu, sumber daya besar, dan belum tentu memberikan hasil signifikan. “Kenapa kami harus beralih ke ARM jika tidak ada nilai tambah nyata?” tegas AMD. “Dengan x86, kami tetap bisa bersaing dalam hal performa, efisiensi, dan harga.”
“Baca Juga: Apple Kehilangan Talenta AI, Meta Rekrut Jenius Terbaru”
Masa Depan Persaingan x86 vs ARM Masih Panjang
Meski AMD menolak ARM untuk saat ini, industri tidak menutup kemungkinan akan berubah di masa depan. Pengembangan teknologi AI, kebutuhan efisiensi energi, serta inovasi sistem operasi bisa mendorong adopsi ARM lebih luas.
Namun hingga kini, AMD tetap fokus mengembangkan prosesor x86 untuk berbagai segmen — dari laptop hingga pusat data. Kolaborasi dengan Intel dan penguatan lini Ryzen menunjukkan bahwa perusahaan masih melihat potensi besar di arsitektur yang sudah mereka kuasai. Jika ARM terus menunjukkan peningkatan performa dan kompatibilitas, mungkin di masa depan akan terjadi adopsi hybrid atau peralihan strategi. Untuk saat ini, AMD memilih untuk tetap berada di jalur yang mereka anggap paling masuk akal: x86.




Leave a Reply