Dimiscart Gallery – Iran menyatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga Amerika Serikat memenuhi sejumlah persyaratan yang diajukan Teheran. Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya kembali konflik antara kedua negara setelah perang kembali pecah pekan lalu. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia karena menjadi lintasan utama pengiriman minyak dan gas global. Penutupan jalur ini berpotensi memengaruhi perdagangan internasional dan pasar energi. Hingga kini, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat masih terus meningkat tanpa tanda-tanda penyelesaian dalam waktu dekat.
“Baca Juga: Glen Schofield Akhiri Karier di Industri Video Game”
Iran Ajukan Syarat Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Menurut laporan kantor berita semi-resmi Mehr News Agency, juru bicara militer Iran Mohammad Akrami-Nia menyatakan bahwa kendali atas Selat Hormuz harus berada di bawah otoritas Iran sebelum jalur tersebut dibuka kembali. Pernyataan itu disampaikan pada Rabu, 15 Juli 2026, dan kemudian dikutip oleh sejumlah media internasional.
Akrami-Nia mengatakan Amerika Serikat harus mematuhi ketentuan dalam kesepakatan kerangka perdamaian yang dicapai pada bulan sebelumnya. Selain itu, Washington diminta menghentikan tindakan yang dianggap bermusuhan serta menerima aturan Iran terkait pengelolaan Selat Hormuz. Menurutnya, persyaratan tersebut menjadi dasar sebelum lalu lintas pelayaran dapat kembali dibuka.
Ia juga menegaskan bahwa operasi militer Amerika Serikat tidak akan memaksa Iran mengubah keputusannya. Selama syarat-syarat tersebut belum dipenuhi, Teheran menyatakan penutupan Selat Hormuz tetap diberlakukan.
Garda Revolusi Iran Klaim Operasi Militer Masih Berlanjut
Di tengah ketegangan tersebut, Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyampaikan bahwa operasi militernya masih terus berlangsung. Fokus utama operasi disebut diarahkan untuk menghancurkan infrastruktur ofensif milik Amerika Serikat di berbagai wilayah.
Juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, melalui platform X menyatakan bahwa pihak yang disebut sebagai musuh tidak boleh menganggap konflik saat ini akan berkembang menjadi perang gesekan yang menguntungkan mereka. Menurutnya, Iran telah menyiapkan tahapan operasi berikutnya setelah sasaran utama tercapai.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Iran masih mempertahankan pendekatan militer dalam menghadapi tekanan dari Amerika Serikat. Hingga kini, belum ada indikasi bahwa kedua pihak akan menghentikan operasi mereka dalam waktu dekat.
Serangan Baru Warnai Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat
Pernyataan dari pejabat Iran muncul setelah sejumlah ledakan kembali dilaporkan di berbagai kota di negara tersebut. Pada saat yang sama, Komando Pusat Militer Amerika Serikat atau CENTCOM mengumumkan serangan tambahan terhadap sasaran di Iran.
Menurut CENTCOM, operasi tersebut menargetkan kemampuan militer Iran yang dinilai berkaitan dengan ancaman terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Jalur pelayaran itu menjadi perhatian utama karena dilalui sebagian besar perdagangan energi dunia. Amerika Serikat menyatakan langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ancaman terhadap keamanan pelayaran internasional.
Serangan terbaru memperpanjang rangkaian aksi militer yang terjadi sejak konflik kembali memanas. Iran sebelumnya membalas serangan Amerika Serikat dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di kawasan. Situasi tersebut membuat implementasi kesepakatan kerangka perdamaian yang dimediasi Pakistan semakin sulit diwujudkan.
“Baca Juga: AMD Hadirkan Hardware VALORANT, Bukan untuk Umum”
Penutupan Selat Hormuz Berpotensi Berdampak pada Perdagangan Global
Selat Hormuz memiliki posisi strategis dalam perdagangan internasional. Jalur ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah melewati perairan tersebut sebelum dikirim ke berbagai negara. Karena itu, setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran dapat memengaruhi rantai pasok energi global.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat juga memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasar energi. Sejumlah analis menilai gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat meningkatkan risiko terhadap distribusi minyak dunia dan mendorong kenaikan harga energi.
Hingga saat ini, belum ada tanda bahwa kedua negara akan mencapai kesepakatan baru dalam waktu dekat. Iran tetap mempertahankan syarat-syaratnya untuk membuka kembali Selat Hormuz, sementara Amerika Serikat terus melanjutkan operasi militernya di kawasan. Perkembangan situasi ini masih menjadi perhatian komunitas internasional karena dampaknya dapat meluas terhadap keamanan kawasan dan perdagangan global.




Leave a Reply